Sunday, March 10, 2013

Elegi

                Senja sudah datang, namun Lembayung tidak juga beranjak dari tempat duduknya di koridor sekolah. Siang tadi, Lembayung akhirnya memutuskan untuk datang ke almamater sekolahnya untuk bertemu dengan teman-teman lamanya. Sekarang, Lembayung seorang diri, teman-temannya sudah pulang sejam yang lalu dan di koridor inilah dia kembali melihat masa lalunya.
                “Lembayung, hari ini kita ke perpus ya. Belajar dan diskusi untuk persiapan UAN dan SNMPTN,” kata Bima di jam istirahat. Anggukan kepala Lembayung sudah dimengerti oleh Bima. Begitulah aktivitas sore hari Lembayung dan Bima bila tidak ada bimbingan belajar di sore hari. Hingga suatu malam, melalui telpon Bima mengungkapkan perasaannya pada Lembayung. Keesokan harinya, Lembayung menganggukan kepala tanda mereka telah menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.
                Di sekolah, Lembayung dan Bima selalu bersama dan hampir di tiap kesempatan mereka selalu tampil berdua dan tak terasa sudah mendekati hari perpisahan. Lembayung sudah tahu kalau Bima akan mengikuti intensif di Bandung. “Lembayung, bila nanti aku di pulau Jawa jangan lupa sms aku ya. Kita saling mendoakan supaya nanti kita berada di tempat yang sama lagi.” Lembayung hanya menundukkan kepala menyembunyikan kesedihan hatinya dan dia harus menerima kepergian Bima di hari Minggu besok dan dia tidak bisa mengantarnya.
                Sudah seminggu berlalu sejak kepergian Bima ke Bandung, mereka selalu sms-an tapi ada yang beda dirasakan Lembayung dan Lembayung tahu kalau Bima tidak ingin diganggu. Bima sepertinya ingin fokus mendapatkan PTN yang diimpikan. Lembayung memberanikan diri untuk bertanya, “Bim, kenapa akhir-akhir ini kamu berbeda?” Bima hanya diam dan Lembayung pun tetap dalam diamnya hingga sepuluh menit dalam diam Lembayung memecah keheningan itu. “Bima, kita putus saja, aku tahu kamu tidak ingin diganggu, aku tahu kamu ingin mencapai keinginanmu, aku tahu kamu tidak bisa membagi pikiranmu saat ini, aku terima,” kata-kata itu terucap begitu saja, begitu ikhlas Lembayung menyampaikan namun hatinya begitu perih. Bima hanya diam saja dan akhirnya Lembayung mematikan telponnya dan Lembayung pun terluka.
                Sudah hampir 5 tahun kejadian itu berlalu, namun hingga saat ini Lembayung masih mengenangnya. Setiap pria yang datang dalam hidupnya selalu dibandingkan dengan Bima dan dia belum bisa menerima pria lain. Lembayung masih tertatih jalannya, dia masih belum bisa mengobati perih lukanya.
                Lembayung akhirnya bangkit dari duduknya dan dia pun sadar seharusnya tidak memikirkan hal itu lagi. Dia berjanji pada langit senja untuk tidak mengingat Bima lagi, dan berharap pada Tuhan untuk mempertemukannya dengan pria yang telah ditetapkan oleh Tuhan.

Berjalan tegaklah Lembayung, masa depan begitu indah bila kita mempunyai pengharapan.

No comments:

Post a Comment