Sunday, March 10, 2013

Kasih Putih

“Hampir setahun sejak kepergian dirimu, mama,”  bisik Nada di makam ibunya. Di Minggu pagi pulang dari Gereja, Nada menyempatkan diri untuk bertegur sapa dengan ibunya. Tak ada yang tahu kapan saatnya dipanggil, begitu juga dengan kepergian ibunya Nada. Tiada yang percaya akan hal tersebut, begitu cepat kabar itu tersebar dan semua harus mengikhlaskan.

Nada masih duduk di bangku sekolah dasar, namun sekarang pemikirannya telah berubah menjadi dewasa. Di sekolah, teman-teman Nada sangat menyukainya, pribadi yang ramah dan periang dan itu membuat teman-temannya menyayanginya.

Setahun yang lalu, di meja pojok kelas 4 Nada masih mengerjakan soal ulangan Matematika. “Nada, sebentar ke sini nak,” panggil Ibu Frida, guru Matematika yang baik. Nada maju ke depan dengan tatapan mata seluruh murid tertuju padanya. Ibu Frida mengajak Nada ke luar, dan teman-temannya masih bingung akan situasi tersebut.


“Nada, kamu harus kuat ya.” Nada hanya diam, namun hatinya sudah tidak tenang. “Ibumu telah dipanggil oleh Bapa, kamu yang tabah ya nak. Ibu yakin Nada orang yang kuat, dan akan bisa menghadapinya.” Nada masih bingung akan alunan kata yang teruntai dari mulut Ibu Frida, dia tak bisa mengartikan semuanya. Nada tak bersuara, kepalanya hanya menunduk dan menahan linangan air mata.

Nada diantar pulang oleh Pak Albert, si penjaga sekolah. Di depan rumah dia melihat sudah banyak orang dengan kesibukannya. Matanya hanya ingin melihat ibunya berdiri di depan dan menyambutnya, berharap kalau Ibu Frida mengatakan hal yang bohong. Namun, semuanya benar, ibunya terbaring di tengah-tengah ruang dengan jemari tangan berdoa. “Tuhan, begitu cepat Kau panggil mama, aku masih terlalu belia, aku belum mengerti semua arti kehidupan, aku masih harus belajar dari mama,Tuhan,” Nada hanya menyampaikan pada Tuhan melalui batinnya.

Nada terlalu letih, sudah habis air matanya untuk menghantar kepergian ibunya hingga ke rumah terakhirnya. Malam ini, Nada menangisi kesendiriannya. Tiada dongeng dari ibunya, tiada ucapan selamat malam dari ibunya, hanya hening yang didapatnya. Malam ini, Nada ingin berbicara dengan Tuhan melalui 50 butir kata Salam Maria, dalam setiap doanya hanya air mata yang selalu tumpah, begitu dalam kerinduannya untuk bertemu dengan ibunya. Hingga akhirnya dia selesai berdoa, dan dia berujar, “Tuhan memilihku karna aku pribadi lebih kuat dibanding umatNya yang lain. Tuhan tahu aku mampu menjalani hidup, Tuhan akan selalu menuntun aku, dan aku tahu mama juga akan berada selalu di dekatku walau tidak aku lihat.” Kalimat yang begitu tulus diucapkan oleh Nada dan dia mengakhiri menutup malam ini dengan sebuah keikhlasan hati.

No comments:

Post a Comment