Thursday, September 19, 2013

Just bent

~~Jangan sembunyi, kumohon padamu jangan sembunyi

Sepenggal lirik yang begitu tersurat maknanya, dan tanpa terselubung apapun itulah yang ingin kusampaikan
..

Dulu setahun sembilan bulan yang lalu kita bertemu dan itu perjumpaan yang begitu sederhana di awal tahun 2012. Hingga dengan alasan klasik -yang bagimu mungkin terlalu childish-, aku menjauh. 

"Kenapa Tuhan membuatku selalu mengingat masa lalu?"

Baris kalimat itu keluar dari pikiranku, dan saat itu tanpa sadar kisah-kisah itu mengalun dalam memori otakku. Kuakui aku memang susah untuk melupakan dia, dia cinta pertamaku. Pernah kumencoba menjalin kisah dengan teman kampus, tapi kami tidak saling membuka diri, segalanya dipendam dalam diri masing-masing, hanya bertahan sebulan, dan dia masa laluku juga berkata padaku, "Kenapa kamu memilih dia, kan dia itu bukan orang yang tepat? Kamu dan aku sama-sama tahu gimana dia di masa-masa SMA"
Aku pikir dia datang dan berkata demikian untuk kembali merajut kisah kasih SMA dulu. Tapi sayang, itu hanya sebuah fatamorgana.

..
Akhirnya aku tak sekuat yang kukira, kubercerita pada sahabatku dan dia menyayangkan sikapku. Mengapa begitu rapuhnya aku hanya karena melihat kilas balik hidupku?
Padahal kisah itu pun sudah lama usai, sudah 4 tahun berlalu.
Beberapa hari kemudian, aku mengirimkan pesan singkat ke dia si masa lalu dan mengatakan aku masih memikirkan dia.
Pahit..
Bagaimana mungkin aku yang seorang wanita timur mengatakan demikian, aku mengakui adanya emansipasi wanita, tapi bukan untuk mengatakan hal itu. Tapi, itulah yang harus kulakukan supaya aku tidak terjerat selalu bayang-bayang masa lalu. Akhirnya, kutahu kami tidak bisa untuk bersama kembali walau satu sama lain belum punya pasangan. "Kamu bilang kamu lagi dekat dengan seseorang, mungkin dia lebih baik dari aku, lupakan aku dan mulailah membuka diri untuk pria lain", akhirnya kamu membalas pesanku dengan suara dalam telepon itu.
Aku bukan orang yang dengan mudahnya untuk mengatakan iya dan kembali melanjutkan kisahku dengan pria yang sedang kukenal saat itu.
..

Setahun delapan bulan yang lalu, aku menjauh dari pria yang kukenal saat itu. Pertemuan itu begitu singkat dan aku memutuskan untuk menjauh. 
Kecewa
Maaf, bila itu membuatmu terluka tapi aku tak mau dalam waktu itu aku bersamamu karena aku masih teringat bayang-bayang masa lalu. Kamu tetap rajin menanyakan keadaanku, dan kamu tetap menantiku. 
Tapi yang terlintas dalam benakku, mungkin itu hanya karena aku memutuskan sepihak dan mungkin itu hanya rasa penasaran akan dirimu bagaimana bila dekat denganku. Bukan cinta tapi penasaran. Terlalu negative-nya pikiranku. Maaf, bila itu tidak seperti yang ada dalam hatimu, tapi itulah yang ada dalam pikiranku. Dan perlahan-lahan pikiran negativeku berganti bahwa kamu tulus mencintaiku, dan aku belajar mencoba walau masih tertutup.
..

.3 bulan kemudian.
Sahabatku melakukan chatting  denganku, dan dia mengatakan tentang dirimu. Katanya ketika itu kamu masih punya kekasih, namun kamu juga mendekati wanita lain. Dan, aku semakin menutup diri darimu karena ucapan itu, aku takut mendapati kondisi dimana kamu bersamaku dan kamu juga mendekati wanita lain. Sahabatku tidak setuju, walau dari 4 bulan itu aku hampir luluh karena kamu selalu menanyakan kondisiku walau aku begitu tertutupnya samamu.

Waktu kita terus bergulir, dan kamu tetap setia untuk menanyakan keadaanku. Di penghujung tahun 2012 kuberanikan diri untuk menyampaikan alasanku menjauh darimu dan aku hanya mengatakan apa yang dikatakan sahabatku tanpa mengatakan dulu aku masih teringat si masa lalu. Kamu dengan beraninya mengakui hal tersebut.
Kumenelaah setiap kata yang terujar dari bibirmu, dan kusadari itu bisa dikategorikan "ada benarnya". 
.....Seminggu yang lalu, aku juga bercerita dengan teman pria di kantorku dan dia mengatakan dia putus dari pacarnya yang telah bersamanya 8 tahun karena mencoba belajar nakal dengan melirik wanita lain dan menjalin hubungan dengan wanita lain itu, tapi sekarang dia menyesal dan mencoba untuk kembali dengan pacarnya tersebut, dan dia mengakui lebih baik dia mengenal kata nakal sekarang daripada ketika dia sudah berumah tangga, sebab itu akan lebih menyakiti banyak orang termasuk anak-anaknya.....
Aku juga bercerita kepada mama, tempat curahan hatiku, dan mama juga berkata sama, "ada saatnya orang berubah, nang. Mungkin itu dulu, sekarang berbeda."
Setidaknya mama tidak mempunyai pikiran yang buruk tentang dirimu, dan aku mendapat setitik embun.

..
Ini sudah di tahun 2013.

Banjir Jakarta di awal tahun, kamu menanyakan kabarku dan kondisi sekelilingku. Baiknya dirimu. 
Di usia 23 tahunku, kamu yang pertama mengucapkan kata "Selamat Ulang Tahun"  padaku. Aku senang kamu masih menempatkanku di hatimu, tapi ku belum siap untuk bertemu denganmu kembali.

Dan..
Mungkin kamu sudah jenuh dengan sikapku, akhirnya kamu pun menjauh dariku. Dan tahukah dirimu, akhirnya aku bertanya kepada sahabatku apakah ada kemungkinan seseorang untuk berubah. Pertanyaan retorik yang seharusnya tak usah aku tanyakan pada pribadi manapun. Tapi, aku harus bertanya untuk mendapat sebuah pengakuan. Dan, dia pun mengerti maksudku.
Kusadar, aku takut kamu jauh dariku.

Di bulan Juni ketika kamu mau pulang ke kampung, aku mencoba memulai mengirimkan pesan singkat yang isinya. 

"Jadi abang pulang ke kampung?"

Mungkin kamu bingung dengan sebuah pertanyaan dari no telepon yang telah kamu hapus dari SIMCard. Sekarang, keadaan telah berbeda. Aku yang datang kepadamu dan kamu pun merasa  ini begitu aneh. Aku yang dulu tidak seperti ini, dan aku tahu kamu mungkin menaruh curiga padaku. Wajar.

Akhirnya, kita mencoba untuk menjalin kisah. Dan, mungkin lebih banyak pasifnya. Apa aku terlalu kaku dan tidak tahu untuk menyenangkan hatimu hingga kamu begitu dinginnya padaku. Atau rasa curigaku dulu yang menjadi jawabannya, apa kamu penasaran bagaimana rasanya bila dekat dengan diriku.
Kuakui saat ini pun aku jarang buat hubungi kamu, tapi itu memang kusengaja. Mungkin aku terlalu egois bila ingin selalu yang diperhatikan terlebih dahulu, tapi aku hampir lelah melihat jawaban singkatmu bila ditanya. Aku juga bosan melihat layar hape hanya untuk memastikan logo hijau si chatting terpopuler saat ini. Tapi nihil. Apa aku sebegitu menjenuhkannya? Maaf, bila aku terlalu menuntut. Maaf, buat kisah setahun delapan bulan yang lalu. 
..

Itu semuanya kisah kita setahun sembilan bulan yang lalu.
Sekarang apa yang kamu rasa kamu pun tidak tahu. Jujur, aku sedih baca kalimat itu.
Bila kamu ingin berjalan dengan bintangmu sendiri, katakan.
Bila cahaya bintangmu meredup ketika berbagi bersamaku, katakan.
Aku tak akan merebut cahaya terangmu

~~Kau acuhkan aku, Kau diamkan aku~~

Jakarta, 19 September 2013
7:41 PM

No comments:

Post a Comment