Thursday, November 7, 2013

Luluh


..Tulisan ini inspirasi dari si inisial kedelapanbelas..

.
Setiap aku menatapnya, kutahu dia itu kolerik. Dan, saat ini aku tahu dia pasti membenci pribadinya yang menjadi si melankolis. Tiada mungkin si orang tegas menginginkan dirinya cengeng. Tapi, inilah hidup dan dia sedang berada di titik kerapuhan.

Beberapa hari yang lalu dia mengatakan ini,
Apa yang "terlalu" akan cepat "berlalu". Dan, jika saat ini aku mencintainya dengan terlalu, mampukan aku untuk menguatkan diriku dari sakitnya.


Ya, aku tahu apa penyebab dirinya menjadi pribadi "lain". Cinta.
Sebegitu hebatkah cinta hingga mampu memporak-porandakan hati? Sebegitu hebatkah cinta hingga mampu mengubah pribadi? Sebegitu hebatkah cinta hingga mampu mengalirkan air mata?

Peristiwa manis itu dimulai beberapa bulan lalu, dan dia belum mempersiapkan diri bahwa akan ada hari yang membuat itu berlalu. Tanpa mengetahui batasnya, tanpa mengetahui waktunya, pergerakan perpisahan bisa begitu cepat melaju.

Diapun berkisah,
...
“ senyumnya itu sumber kekagumanku, aku duduk di sebelahnya dan menikmati satu hal itu. Kadang aku memaksa untuk bergandengan tangan dengan dia, karena tanpa dia tahu aku merasa tenang dalam genggamannya yang hangat. Lagi-lagi tanpa dia tahu, aku selalu ingin terjatuh tak sengaja di bahunya. Seperti pada setiap pasangan pasti ada harapan, asa dan impian ke depannya. Tapi, mungkin kami belum bisa bersama menggapainya. Kubahagia dekatnya. Namun, bahagia yang berlebihan selalu punya harganya sendiri. Apa dengan kepergiannya, baru bisa kulunasi.
Mungkin karena aku terlalu merasa memiliki, jadi kurasakan kehilangan dini yang menyakiti. Ku tak ingin menyelesaikan apapun, karena pertambahan sehari adalah permulaan baru dengannya. Aku tidak ingin sebuah akhir agar kami pun bisa meneruskan lagi cerita-cerita yang menyertakan perjalanan mendewasakan hati. Aku ingin lebih banyak kami tanpa khawatir yang mengada-ada. Pernah aku berharap, jika dia melipat jemarinya ada namaku terbungkus dalam doanya . Tapi, sekarang…

Itulah dia yang kukenal, di saat seperti ini perasaan yang lebih diutamakannya. Aku hanya bisa berkata untuknya,

Kamu harus belajar melepaskan, walau kamu ingin memeluknya lebih lama. Kamu harus tahu caranya bertahan walau hatimu belum bisa melepaskan. Kamu harus menghafal segala fenomena, jika ‘usai’ atas kalian akan segera tiba. Kamu harus belajar untuk menuliskan kelanjutan cerita-cerita kalian tanpa harus sambil menitikkan airmata. Dan, ketika kamu mengeluarkan airmata, aku akan segera secepat kilat menghapus airmatamu, karena kamu adalah jiwaku.

No comments:

Post a Comment