Wednesday, March 20, 2013

Give Thanks

Metamorfosa 0
satu lembar putih kembali menghiasi dunia ini
kuterlahir dengan menarikan kebebasan
tangisku memecah kebahagiaan mama papa
kuberi warna baru bagi mereka
dengan memanggilku, "putri"

Metamorfasa I
kakiku sudah semakin kuat
tapi ku lebih senang dalam dekap mama 
ku lebih menikmati di pangkuan papa
karena itu membuatku tenang

Metamorfosa II
kusemakin pintar berbahasa
"mama" ujarku
terlihat air mata kebahagiaan di mata mama
"papa" ujarku lagi
dan papa semakin mendekapku dalam peluknya

Sunday, March 10, 2013

Kasih Putih

“Hampir setahun sejak kepergian dirimu, mama,”  bisik Nada di makam ibunya. Di Minggu pagi pulang dari Gereja, Nada menyempatkan diri untuk bertegur sapa dengan ibunya. Tak ada yang tahu kapan saatnya dipanggil, begitu juga dengan kepergian ibunya Nada. Tiada yang percaya akan hal tersebut, begitu cepat kabar itu tersebar dan semua harus mengikhlaskan.

Nada masih duduk di bangku sekolah dasar, namun sekarang pemikirannya telah berubah menjadi dewasa. Di sekolah, teman-teman Nada sangat menyukainya, pribadi yang ramah dan periang dan itu membuat teman-temannya menyayanginya.

Setahun yang lalu, di meja pojok kelas 4 Nada masih mengerjakan soal ulangan Matematika. “Nada, sebentar ke sini nak,” panggil Ibu Frida, guru Matematika yang baik. Nada maju ke depan dengan tatapan mata seluruh murid tertuju padanya. Ibu Frida mengajak Nada ke luar, dan teman-temannya masih bingung akan situasi tersebut.

Elegi

                Senja sudah datang, namun Lembayung tidak juga beranjak dari tempat duduknya di koridor sekolah. Siang tadi, Lembayung akhirnya memutuskan untuk datang ke almamater sekolahnya untuk bertemu dengan teman-teman lamanya. Sekarang, Lembayung seorang diri, teman-temannya sudah pulang sejam yang lalu dan di koridor inilah dia kembali melihat masa lalunya.
                “Lembayung, hari ini kita ke perpus ya. Belajar dan diskusi untuk persiapan UAN dan SNMPTN,” kata Bima di jam istirahat. Anggukan kepala Lembayung sudah dimengerti oleh Bima. Begitulah aktivitas sore hari Lembayung dan Bima bila tidak ada bimbingan belajar di sore hari. Hingga suatu malam, melalui telpon Bima mengungkapkan perasaannya pada Lembayung. Keesokan harinya, Lembayung menganggukan kepala tanda mereka telah menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.
                Di sekolah, Lembayung dan Bima selalu bersama dan hampir di tiap kesempatan mereka selalu tampil berdua dan tak terasa sudah mendekati hari perpisahan. Lembayung sudah tahu kalau Bima akan mengikuti intensif di Bandung. “Lembayung, bila nanti aku di pulau Jawa jangan lupa sms aku ya. Kita saling mendoakan supaya nanti kita berada di tempat yang sama lagi.” Lembayung hanya menundukkan kepala menyembunyikan kesedihan hatinya dan dia harus menerima kepergian Bima di hari Minggu besok dan dia tidak bisa mengantarnya.