Wednesday, December 3, 2014

Call My Mom

Ini Desember, di penghujung tahun 2014.
Seharusnya bulan ini penuh sukacita karena ini bulan penuh sukacita menyambut Kelahiran Yesus Kristus.
Tapi, hati ini rasanya gersang dan sepertinya akan tandus.
Mungkin aku krisis kepercayaan pada orang di sekitar.
Atau aku terlalu lelah dengan adu pendapat bersama panitia Natal.
Entahlah...
Aku hanya ingin berjumpa dengan Mama dan bercerita tentang kejadian setiap hari, tapi itu tidak bisa.
Hanya melalui telepon saja.
Aku ga bisa melihat mimik mukanya secara langsung ketika mendengar setiap keluhanku, tapi aku yakin
dia tidak suka dengan aku yang terlalu mengeluhkan bukan bersyukur.
Mama, selalu datang dengan penuh kesederhanaannya, memecah masalah yang aku anggap pelik menjadi
hal yang begitu biasa saja sebenarnya.
Mama, selalu dapat menenangkan hati yang sibuk dengan pikiran yang negatif.
Mama, selalu ada... dan akan selalu ada...


Monday, October 13, 2014

pasrah



"Daun yang jatuh tak pernah membenci angin"
Kutemukan kata-kata ini, Tere Liye memberiku mata batin.
Ikhlas (mampukah?)
Sangat retorik, bila ingat canda tawa yang bertransmisi di udara.
Sendunya malam atau hangatnya malamkah kemarin itu?
Hanya mulut yang dengan ringan dan riang mengucapkan ikhlas,
tapi hati dan tindakanku tidak bersinkronisasi dengan mulut.
Sangat samar pembatas rela dan sangkalku.
Ku tahu, kamu pun pasti tidak membaca kamuflase kata-kataku yang mengudara, semuanya fatamorgana. Karena ku si wanita penyimpan segala rasa kata yang beribu makna.
Maaf untuk keraguan yang terjadi. Aku hanya ingin berhati-hati untuk memberi hati yang pernah terluka ini, tapi sabarmu mungkin tak lama untukku.
Ada batasnya, dan kamu mengubah haluan. Aku bahagia, tapi tak ku pungkiri ada sedih di hati.
Sekarang aku jadi daun yang jatuh. Apakah daunku jatuh karena tertiup angin? Atau pohonku (kunyatakan sebagai cinta) tak ingin ditinggali lagi?
Aku bukan daun yang dengan mudah terbang bersama angin. Ku lawan arah angin, hingga sampai batas mampuku akhirnya aku terbang bersama angin. Ikhlasku sangat kecil, sangat naifnya diriku.

Jakarta, 13 September 2014



Saturday, March 1, 2014

Saturday, February 8, 2014

Goodbye is the saddest word

Untuk kamu yang nantinya membaca surat ini, aku hanya ingin kamu tahu.

Pertemuan-Perpisahan-Pertemuan, bukankah hanya seperti itu alurnya?

Kapan kita bertemu, kapan kita berpisah dan kapan kita akan bertemu lagi tidak ada yang tahu.
Untuk apa dahulu kita dipertemukan, jika pada akhirnya kita dipisahkan?
Dan untuk apa kita akan dipertemukan lagi, jika dahulu kita dipisahkan?

Dahulu kita bertemu untuk menyatukan sebuah janji, tapi sekarang kita sudah mengubah haluan.
Dahulu kita menjaga untuk bersama, sekarang terucap kata selamat tinggal.
Resiko dari pertemuan adalah perpisahan, dan kita tidak tahu kapan perpisahan itu terjadi.
Dan, kusadari bahwa perpisahan itu selalu menyisakan rasa sakit. Jika saja aku bisa,
aku tidak mau ada perpisahan, karena perpisahan itu menjauhkan dan mengasingkan kita. 

Jika kamu tanya, apakah aku masih mencintaimu? Hingga detik ini, bilapun kamu masih sibuk dengan 
duniamu aku masih tetap mencintaimu. Lalu, kapan aku bisa menghilangkan segala ritual-ritual manis kita?
Ku yakin akan sedih yang terjadi bila aku menuliskan skenario dari perpisahan kita.
Namun, pergilah bila itu yang telah kamu pilih.
Aku akan berdamai dengan waktu untuk memulihkan hati ini, untuk mendapatkan kebahagiaanku, untuk jatuh cinta lagi, untuk mendapatkan seseorang yang akan tidak berpisah lagi denganku.
Mungkin dengan perpisahan denganmu, ada pertemuan lain yang sudah disiapkan tanpa ada perpisahan lagi.

Aku pergi, aku akan menyembuhkan hati. Tidak apa-apa, karena segalanya sudah dikendalikan oleh yang lebih Ahli.

Selamat pergi, Selamat tinggal (di hati yang lain)

bepeka

Hymne  BPK

Kami sang abdi negara
Mengemban tugas mulia
untuk tanah air tercinta
demi bangsaku Indonesia

Kami siap jiwa dan raga
mengabdi untukmu negara
tegar takkan pernah gentar
menjaga harta negara
dengan s'mangat Pancasila

Mars BPK

Wahai sang abdi negara Badan Pemeriksa Keuangan
hayatilah dan amalkanlah pengabdianmu
dengan menjunjung tinggi independensi integritas dan tanggung jawab
memeriksa pengelolaan dan tanggungg jawab keuangan negara

Demi bangsaku Indonesia tanah air tercinta
kami siap jiwa dan raga mengabdi untuk negara
tegar takkan gentar
menjaga mengayomi harta negara
dengan semangat Pancasila


Sudah hampir sebulan aku menjadi bagian dari keluarga besar BPK RI, dan memulai Pengalaman pertama dengan magang di 
BPK RI Perwakilan Sumatera Utara. Tiap hari kedua lagu yang di atas senantiasa kudengar sepuluh menit sebelum pulang kantor.
Layaknya sebuah hymne yang akan merasuki jiwa dan layaknya sebuah mars yang akan membakar jiwa, begitu juga kedua lagu ini selalu mampu membuat aku merinding bila mendengarnya.
Dan, ku ingat perjuanganku masuk ke BPK ini.

Tuesday, January 14, 2014

dua nol satu empat

Yap, finally ini tahun yang baru 2014!!!
Walau sudah 14 hari berlalu.
Kalau flashback ke tahun 2013, 
aku bersyukur untuk segalanya, bukan hanya tuk suka 
tapi tuk duka yang kualami karna kutahu ini pendewasaanku.
Terima kasih buat dia yang pernah ngisi waktuku walau beberapa bulan,
Terima kasih untuk hadiah pekerjaan di akhir tahun,
dan terima kasih untuk penguatan iman...

Masih ada 351 hari lagi, dan biarlah Tuhan selalu memberiku harapan akan indahnya hidup bila selalu mengandalkan Dia sebagai nakhoda hidupku.
Semoga CPNSku membuahkan hasil di akhir tahun dengan pengangkatanku, dan semoga aku tetap berusaha menjadi pribadi yang jujur dan rendah hati.

Happy New Year Uci :)