Saturday, February 8, 2014

Goodbye is the saddest word

Untuk kamu yang nantinya membaca surat ini, aku hanya ingin kamu tahu.

Pertemuan-Perpisahan-Pertemuan, bukankah hanya seperti itu alurnya?

Kapan kita bertemu, kapan kita berpisah dan kapan kita akan bertemu lagi tidak ada yang tahu.
Untuk apa dahulu kita dipertemukan, jika pada akhirnya kita dipisahkan?
Dan untuk apa kita akan dipertemukan lagi, jika dahulu kita dipisahkan?

Dahulu kita bertemu untuk menyatukan sebuah janji, tapi sekarang kita sudah mengubah haluan.
Dahulu kita menjaga untuk bersama, sekarang terucap kata selamat tinggal.
Resiko dari pertemuan adalah perpisahan, dan kita tidak tahu kapan perpisahan itu terjadi.
Dan, kusadari bahwa perpisahan itu selalu menyisakan rasa sakit. Jika saja aku bisa,
aku tidak mau ada perpisahan, karena perpisahan itu menjauhkan dan mengasingkan kita. 

Jika kamu tanya, apakah aku masih mencintaimu? Hingga detik ini, bilapun kamu masih sibuk dengan 
duniamu aku masih tetap mencintaimu. Lalu, kapan aku bisa menghilangkan segala ritual-ritual manis kita?
Ku yakin akan sedih yang terjadi bila aku menuliskan skenario dari perpisahan kita.
Namun, pergilah bila itu yang telah kamu pilih.
Aku akan berdamai dengan waktu untuk memulihkan hati ini, untuk mendapatkan kebahagiaanku, untuk jatuh cinta lagi, untuk mendapatkan seseorang yang akan tidak berpisah lagi denganku.
Mungkin dengan perpisahan denganmu, ada pertemuan lain yang sudah disiapkan tanpa ada perpisahan lagi.

Aku pergi, aku akan menyembuhkan hati. Tidak apa-apa, karena segalanya sudah dikendalikan oleh yang lebih Ahli.

Selamat pergi, Selamat tinggal (di hati yang lain)

No comments:

Post a Comment