Monday, October 13, 2014

pasrah



"Daun yang jatuh tak pernah membenci angin"
Kutemukan kata-kata ini, Tere Liye memberiku mata batin.
Ikhlas (mampukah?)
Sangat retorik, bila ingat canda tawa yang bertransmisi di udara.
Sendunya malam atau hangatnya malamkah kemarin itu?
Hanya mulut yang dengan ringan dan riang mengucapkan ikhlas,
tapi hati dan tindakanku tidak bersinkronisasi dengan mulut.
Sangat samar pembatas rela dan sangkalku.
Ku tahu, kamu pun pasti tidak membaca kamuflase kata-kataku yang mengudara, semuanya fatamorgana. Karena ku si wanita penyimpan segala rasa kata yang beribu makna.
Maaf untuk keraguan yang terjadi. Aku hanya ingin berhati-hati untuk memberi hati yang pernah terluka ini, tapi sabarmu mungkin tak lama untukku.
Ada batasnya, dan kamu mengubah haluan. Aku bahagia, tapi tak ku pungkiri ada sedih di hati.
Sekarang aku jadi daun yang jatuh. Apakah daunku jatuh karena tertiup angin? Atau pohonku (kunyatakan sebagai cinta) tak ingin ditinggali lagi?
Aku bukan daun yang dengan mudah terbang bersama angin. Ku lawan arah angin, hingga sampai batas mampuku akhirnya aku terbang bersama angin. Ikhlasku sangat kecil, sangat naifnya diriku.

Jakarta, 13 September 2014



No comments:

Post a Comment